Kenapa pada ribut BBM ya?
Setelah lama nggak posting, ahirnya hari ini tertarik untuk posting sesuatu hal yang sedikit taboo buat saya, karena saya bukan orang dari perpolitikan apalagi dari perminyakan. Saya hanya orang yang ingin banyak tahu tentang banyak hal. Isinya tentang, ya seperti judul itu, kenapa pada ribut tentang BBM ya? Awalnya saya sama sekali nggak tertarik sama issue yang satu ini, berhubung sempet sharing juga sama temen baru di facebook @Syarifah Aini Khairunisa dan @Firsty Ukhti Mollyndi jadi saya sedikit tertarik untuk bahas hal yang semacam permainan politik ini.
Issue nya adalah, rencana kenaikan BBM oleh pemerintah untuk BBM subsidi yaitu Premium dan Solar. Kenaikan tersebut sebesar 30% atau menjadi sekitar Rp.6.000 dari yang asalnya Rp.4.500. Lalu kenapa masyarakat banyak yang ribut? Permasalahan klasik, “Pemerintah Tidak Pro-Rakyat”. Dimana letak tidak “Pro-Rakyat”-nya? Ya, itu tadi karena kenaikan harga BBM akan mencekik rakyat. Kenapa mencekik? Karena BI memperkirakan inflasi akibat kenaikan harga BBM sebesar 5,5% sedangkan pengamat ekonomi Avliani mengatakan inflasi sebesar 6,5% pada tahun 2012 ini [1].
Perhitungan Kenaikan BBM
Sampai saat ini yang menjadi masalah adalah katanya tidak ada transparansi dari pemerintah terkait pengolahan minyak mentah di Indonesia. Yang pasti data yang terdaoat diberbagai sumber mengatakan Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 900 kbpd (kilo barrels per day), sedangkan kebutuhan atau konsumsi minyak mentah negara kita berkisar antara 1,2 juta barrel sampai 1,4 juta barrels perhari. Jadi mungkin, permasalahan yang dihadapi Indonesia itu adalah :
- Produksi yang tidak sesuai dengan konsumsi.
- Cadangan minyak mentah yang menghawatirkan, hanya terdapat sekitar 7 juta – 11 juta barrel [2]. Atau jika dibandingkan dengan konsumsi hanya berkisar untuk 7 hari. Sebagai perbandingan, negara non-produsen seperti singapura mempunyai cadangan minyak mentah untuk 90 hari.
- Harga minyak mentah yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah, tetapi oleh harga pasara dunia. Dan celakanya harga minyak ini berubah-ubah hampir setiap saat.
- … Sementara baru 3 masalah yang saya temukan. Mungkin masalah lain hanyalah politisasi.
Kemari, saya melihat hitung-hitungan yang di publish oleh Ibu Rieke Dyah Pitaloka melalui Broadcast Messaging BlackBerry, (sebetulnya untuk hal ini saya sedikit kecewa karena kenapa wakili rakyat seperti beliau lebih memilih metode ini untuk menyampaikan tanggapannya daripada melalui sebuah presentasi khusus sehingga terdapat dialog dua arah. Kembali ke perhitungan, perhitungannya bisa dilihat disini, pada awalnya saya merasa perhitungan in benar. Tetapi ketika saya mencoba menghitung lagi, saya rasa ada beberapa variabel yang tidak dimasukkan, termasuk tentang bagaimana biaya produksi premium dan solar atau juga tentag biaya transportasi kentika telah menjadi barang siap jual.
Akhirnya untuk perhitungan, saya mengambil kesimpulan selama tidak ada perhitungan dari seorang pakar ekonomi saya tidak bisa mempercayainya. Apalagi jika perhitungan itu berasal dari seorang yang berada didalam partai.
BBM dan Politik
Satu hal yang baru saya sadar juga, mungkin ini hanya permainan elite politik. Teringat dosen kewarganegaraan pernah mengatakan untuk meguasai negara, kuasai dulu kepanikan rakyatnya. Saat ini pemerintah berhasil membuat rakyat panik dan juga berhasil memancing kicauan oposisi. Alahasil semua samar. Kenapa saya kaitkan BBM dengan politik dan saya tidak mau mempercayai perhitungan hasil seorang yang berada didalam partai politik? Karena saya pikir itu seperti memancing di air keruh (entah betul atau salah penggunaan perumpamaannya..hehe..). Saya pikir ini bisa menjadi ajang pencitraan besar-besaran dari para elite polotik yang mempunyai kepentingan pribadi atau golongan.
Pertama kita lihat kondisi sekarang, disatu sisi pemerintah harus menumbuhkan kembali kepercayaan publik tetapi ternyata kondisi eksternal terlanjur parah, misalkan ya harga minyak ini. Yang akhirnya memaksa untuk menaikkan harga minyak. Entahlah ada kepentingan untuk korupsi atau tidak dibalik sana, yang pasti ketika ada keputusan untuk menaikkan harga BBM yang akan banyak bersuara adalah oposisi. Elit politik oposisi sangat bergairah untuk menentang rencana ini. Pikiran negatif saya mengatakan ini adalah bentuk pencitraan. Tapi yang saya sesalkan kenapa bentuk pencitraan ini dengan memperburuk suasana, misalkan dengan memberitahukan kepada masyarakat bahwa pemrintah sekarang itu tidak pro-rakyat buktinya menaikkan harga BBM padahal harga BBM bisa tetap.
Kenapa oposisi tidak melakukan pencitraan dengan menunjukan solusi untuk masalah ini. Saya sendiri lebih suka dengan pencitraan model ini, seperi apa yang dilakukan Pak Joko Widodo atau juga Pak Dahlan Iskan. Pencitraan ini lebih elegan daripada memancing kemarahan mayarakat umum.
Satu hal lagi yang saya sesalkan adalah dari pihak pemerintah, kenapa ridak lebih transaparan dalam mengumumkan alur penggunaan subsidi ini. Atau misalkan dengan melakukan penawaran ketika subsidi untuk BBM dicabut atau dikurangi, maka ada penawaran lain misalkan subsidi dialihkan, tapi saya harap jangan dalam bentuk BLT. Karena ini hanya mengajarkan rakyat menjadi peminta-minta.
Efek Kenaikan BBM
Issue ini menurut saya bisa menjadi lahan empuk untuk berbagai kepentingan. Mungkin diantaranya :
- Penimbum yang bisa mendapatkan keuntungan karena membeli BBM sejak sekarang dan baru dijual nanti.
- Pencitraan baik itu oleh pemerintah ataupun oposisi.
Lalu dimana letak kepentingan rakyat? Setelah saya sedikit surfing lagi dijejaring dunia maya ini, saya baru sadar satu hal, mungkin civitas academica lebih menginginkan sebuah perhitungan, tetapi negara ini demokratis. Kepentingan rakyat yang utama dan rakyat tidak butuh perhitungan, rakyat butuh tindakan nyata bukan sekedar teori belaka.
Saya sendiri menyimpulkan efek dari kenaikan BBM ini sebagai berikut :
Efek Positif :
- Masyarakat akan berpikir dua kali untuk menggunakan kendaraan pribadi.
- Peluang penyelundupan BBM keluar negri akan lebih sedikir karena harga BBM di Indonesia hampir sama dengan harga BBM diluar negri. Sebagai rujukan, harga Solar dan Premium di Malaysia Rp.5.753 dan di Filipina seharga Rp.12.147.
- Mungkin akan terdapat dana yang tidak terpakai untuk subsidi BBM.
- Masayarakat terdorong untuk mencari energi alternatif.
Efek Negatif
- Inflasi yang diperkirakan akan cukup tinggi meskioun beberapa sumber mengatakan inflasi hanya akan bersifat sementara.
- Kebutuhan operasional masyarakat akan meningkat.
- Ada kemungkinan biaya operasional PLN meningkat sehingga biaya listrik ikut naik.
Solusi ?
Saya sendiri berpikir pasti akan ada jalankeluar untuk mengatasi ini. Solusi yang saya pikirkan adalah bukan dengan melawan pemerintah agar jangan menaikkan BBM tapi lebih berfikir untuk jangka panjang. Solusi yang bisa dimulai dari sekarang sampai ke depan nanti. Diantaranya :
- Subsidi diberikan berupa pemotongan biaya transportasi umum. Termasuk didalamnya pemerintah memberikan subsidi dan kemudahan bagi pihak pemegang transportasi umum yang akan memperbaiki kualitas transportasinya. Atau juga pemerintah menaikkan kualitas dari sarana transportasi yang dikelola oleh pemerintah. Untuk hal ini saya sendiri pemakai kendaraan bermotor, tapi jika ada sarana transportasi umum yang nyaman maka saya akan meninggalkan kendaraan pribadi saya.
- Masayarakat mulai berpikkir untuk menggunakan energi terbarukan. Misalkan menggunakan listrik. Dalam hal ini, pemerintah berjanji akan memberikan subsidi untuk setiap pembelian mobil hybrid. Disamping itu, pemerintah juga harus mulai mempunyai niat untuk memberikan anggaran riset kepada ilmuwan indonesia untu menciptakan kendaraan tanpa BBM atau minim BBM dan juga perahu nelayan yang minim BBM atau bahkan tanpa menggunakan BBM.
- Untuk pengusaha kecil menengah yang menggunakan saran transportasi mobil untuk pengiriman produknya, dapat mulai berencana untuk menggunakan jasa angkutan yang disediakan pihak ketiga. Dengan hal ini meskipun ada kenaikan jasa penyewaan saya rasa tidak akan terlalu signifikan.
- Untuk penggunaan listrik, saya yakin pihak PLN telah jauh-jauh hari merencanakan peralihan energi dari BBM.
Terakhir, saya harap kita semua bisa menahan emosi kita dalam menghadapi masalah seperti ini. Masalah ini kompleks, bukan hanya menaikkan atau menurunkan harga. Bagi teman-teman civitas academica, saya butuh saran yang lebih kritir dari pemikiran dangkal saya ini tentang substansi dari pengubahan harga BBM ini. Sekali lagi, saya orang awam dibidang politik dan perminyakan, jadi mohon maaf jika ada kesalahan dan ada tulisan saya yang menyinggung perasaan teman-teman semua.
Terimakasih.
Sumber :
1. Inflasi Karena Kenaikan BBM

